fbpx

Hierarki Efek Media Iklan (Model AIDA)

Dipublikasikan oleh Gilang Irwan pada

Wall photo created by pch.vector

Model AIDA adalah singkatan dari Attention, Interest, Desire, dan Action adalah Model hierarki efek media iklan diperkenalkan pada tahun 1898 oleh ketika pengusaha Amerika, E. St. Elmo Lewis. Aida Merupakan salah satu model yang paling lama digunakan dalam dunia periklanan, kurang lebih sudah dikembangkan sejak abad ke 19. Model ini menyiratkan bahwa konsumen bergerak melalui serangkaian langkah atau tahapan ketika mereka membuat keputusan pembelian.

Efek yang ditimbulkan dari media iklan adalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan karena fokus pada pesan, maka efek haruslah berkaitan dengan pesan yang disampaikan media massa tersebut. Efek media iklan juga diartikan sebagai dampak dari kehadiran media, yang menyebabkan perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku manusia, akibat terpaan media.

Model ini mengusulkan bahwa iklan perlu menyelesaikan sejumlah tugas untuk menggerakkan konsumen pada tahapan tertentu. Tugas tersebut digambarkan melalui berapa tahapan yaitu tahap menarik perhatian (attention), tahap konsumen telah tertarik (interest), tahap munculnya keinginan atau rencana untuk membeli (desire), dan pada akhirnya membeli produk tersebut (action).

Sejumlah model hierarkis sejenis dapat ditemukan dalam berbagai literatur termasuk hirarki efek Lavidge dan DAGMAR. Model hierarkis telah mendominasi teori periklanan, dan AIDA adalah salah satu yang paling banyak diterapkan.

Tahapan Hirarki Model AIDA

model-efek-iklan-aida
Model Aida: Attention Interest Desire Action (marketing)

AIDA adalah salah satu model dasar yang banyak dipakai dalam dunia marketing sebagai tahapan yang harus diingat dalam proses penjualan sebuah produk atau jasa. Model ini dijelaskan dalam empat tahap sebagai berikut:

1. Awareness: Bagaimana membuat pembeli mengetahui produk atau layanan? Saluran Komunikasi apa yang digunakan?

2. Interest: Bagaimana cara mendapatkan perhatian konsumen? Bagaimana strategi pada konten? Adakah fenomena sosial yang mendukung pesan?

3. Desire:  Apakah produk atau layanan diinginkan konsumen? Bagaimana berinteraksi secara pribadi untuk membuat hubungan emosional? Adakah nilai tambah dari produk yang ditawarkan?

4. Action:  Dimana dan kapan produk ditawarkan? Apakah kita mempermudah konsumen melakukan transaksi?

Varian Lain:

1. Lavidge et al’s Hierarchy of Effects:

Awareness → Knowledge → Liking → Preference → Conviction → Purchase

2. McGuire’s model:

Presentation → Attention → Comprehension → Yielding → Retention → Behavior.

3. AISDALSLove model:

Awareness → Interest → Search → Desire → Action → Like/dislike → Share → Love/Hate

Kritik

Kekurangan utama dari AIDA, dan model hierarkis lainnya adalah tidak adanya efek pasca-pembelian seperti kepuasan, konsumsi, perilaku patronase berulang dan niat perilaku pasca-pembelian lainnya seperti rujukan atau berpartisipasi dalam persiapan ulasan produk online.

Kritik penting lainnya terhadap model hierarkis meliputi ketergantungan mereka pada konsep proses respons hierarkis yang linier. Memang, beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumen memproses informasi promosi melalui jalur ganda, yaitu kognitif (berpikir) dan afektif (perasaan) secara bersamaan.

Back to Basic: Model Hierarki Efek Media Promosi Iklan AIDA

Gilang Irwan

%d blogger menyukai ini: