fbpx

Model PESO: Paid, Earned, Shared, & Owned Media

Dipublikasikan oleh Gilang Irwan pada

Dalam era digital yang semakin maju, strategi pemasaran telah mengalami perkembangan yang signifikan. Salah satu pendekatan yang semakin populer adalah menggunakan model PESO, yang merupakan singkatan dari Paid, Earned, Shared, dan Owned Media. Model ini memungkinkan perusahaan untuk mengintegrasikan berbagai jenis media pemasaran untuk mencapai audiens yang lebih luas.

Latar Belakang

PR (hubungan masyarakat) dan Pemasaran dulunya adalah dua hal yang sangat berbeda dan jarang bersinggungan. Seorang agen pemasaran fokus pada strategi media yang kreatif dan berbayar, sementara PR akan bekerja untuk mengamankan hubungan kuat dengan wartawan serta menawarkan komunikasi krisis dan strategi PR. Agen iklan selalu membayar untuk distribusi, PR tidak pernah melakukannya.

Namun ketika internet dan media sosial berkembang pesat, media baru ini sempat menjadi media tak bertuan di antara tim pemasaran dan tim PR. Hal ini terjadi karena media sosial memperkenalkan bentuk distribusi yang berbeda, bahkan berada diantara keduanya. Membuat brand sedikit sulit dan lambat mengadopsi ini, terlihat jelas bahwa penggunaan media sosial yang efektif hanya terlihat pada perusahaan Start Up.

Pada tahun 2008, model PEO (Paid-Earned-Owned) akhirnya mogok karena dampak perkembangan pemasaran digital dan media sosial. Praktisi di industri PR mulai ingin mengembangkan Paid-Earned-Owned dengan menambahkan model distribusi konten di media sosial, hal ini membuat PR kehilangan jati diri karena menggunakan media sosial sebagai media berbayar yang seharusnya menjadi bagian di pemasaran.

Akhirnya model ini pun menjadi tidak lagi relevan dengan perkembangan dunia marketing yang seakan kaget dengan munculnya website dan media sosial. Pada tahun 2014, pakar pemasaran digital Gini Dietrich menerbitkan Spin Sucks dan mengusulkan model baru: model PESO. Model ini merupakan pengembangan Model PEO ini telah mendapatkan tanggapan postif dan menjadi acuan para profesional PR hingga saat ini.

Model PESO: Gini DietrichSpin Sucks

PESO Dalam Kampanye Marketing

Salah satu keunggulan utama dari model PESO adalah kemampuannya untuk mengintegrasikan dan menyatukan kekuatan masing-masing elemen media. Dengan menyelaraskan strategi pemasaran berbayar, diperoleh, dibagikan, dan media milik, perusahaan dapat mencapai audiens yang lebih luas. Menggabungkan efek positif dari berbagai jenis media, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas kampanye pemasaran mereka.

Misalnya, kampanye pemasaran yang melibatkan iklan berbayar di media sosial (paid media) dapat menarik perhatian dan ketertarikan konsumen. Jika kampanye tersebut mendapatkan tanggapan positif dari pengguna dan mendapatkan banyak dibagikan (shared media). Maka konten tersebut memiliki potensi menjadi viral dan mencapai audiens yang lebih luas melalui sharing organik.

Seorang pemasar memiliki kecenderungan untuk fokus pada media yang paling nyaman bagi kami. Jika kita berasal dari PR, itu mungkin berarti hubungan masyarakat tradisional atau pemasaran influencer. Jika kami berasal dari iklan, kami mungkin paling nyaman dengan saluran berbayar. Mendalami pemasaran konten dan inbound, saluran yang yang sesuai dengan background seseorang.

Kesimpulan

Model PESO menawarkan pendekatan holistik untuk membangun strategi komunikasi pemasaran yang efektif. Dengan menggabungkan keempat jenis media ini, perusahaan dapat menjangkau audiens yang lebih luas, meningkatkan kredibilitas merek, membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan, dan mencapai tujuan bisnis mereka secara keseluruhan. Menerapkan model PESO secara strategis, perusahaan dapat membangun komunikasi pemasaran yang terintegrasi dan efektif di era digital yang dinamis ini.

Back to Basics

Model PESO: Paid, Earned, Shared, dan Owned Media

Gilang Irwan